Dandhy Laksono: Sejarah Terulang, Awalnya Abai Bahaya Covid Lalu Paling Depan Bisnis PCR

Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga jurnalis senior, Dandhy Laksono, mengatakan bahwa "sejarah" terulang ketika mencuat isu adanya bisnis ambil untung dari bencana pandemi Covid-19 yang diduga dilakukan pejabat pemerintah.

Dandhy pun mengulas secara singkat kilas balik bagaimana pemerintah menanggapi bencana tsunami Aceh 2004.

Pada saat itu, kata dia, banyak yang menolak perundingan damai antara NKRI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Namun, setelah perundingan damai ditekan dan situasi menjadi kondusif, pemerintah kemudian mengambil proyek Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh - Nias, kata Dandhy Laksono.

Kini, kata Dandhy, "sejarah terulang" ketika pemerintah Indonesia dianggap abai terhadap bahaya Covid-19 di awal kemunculannya pada Maret 2020 lalu, tapi kemudian menjadi paling depan dalam bisnis PCR.

"Bahkan di tengah bencana tsunami 2004, banyak yang menolak perundingan damai antara NKRI dan GAM. Tapi setelah perundingan diteken, dan situasi jadi kondusif, mereka duluan yang ke Aceh mengambil proyek BRR," tutur Dandhy Laksono, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari akun Twitter @Dandhy_Laksono pada Senin, 8 November 2021.

"Sejarah terulang: Awalnya abai bahaya Covid. Lalu paling depan bisnis PCR," sambungnya.

Terkiat dugaan adanya bisnis PCR dari kalangan pejabat pemerintahan, nama Menteri BUMN Erick Thohir dan Menko Marinvest Luhut Binsar Pandjaitan mencuat ke permukaan.

Erick Thohir dan Luhut diduga ikut dalam bisnis PCR lantaran sejumlah perusahaan yang berafiliasi dengan mereka.

Luhut diketahui menggenggam saham PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI) secara tidak langsung melalui dua perusahaan tambang yang terafliliasi dengannya, yakni PT Toba Sejahtera dan PT Toba Bumi Energi.

PT GSI merupakan perusahaan baru yang didirikan tak lama setelah pandemi Covid-19 merebak di tahun 2020.

Sebagai perusahaan bermodal besar, PT GSI memiliki laboratorium modern dan berkapasitas besar dan mampu melakukan tes PCR sebanyak 5.000 tes per hari.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama